Book Vherolly
Berbagi cerita mu disini gratis
Cerita Pilihan :
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 8-9 End | Book Nurmelly
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 8-9 End
Rating : ★★★★★★  (vote)
Category : Cerita Horor | 10/01/2013
Penulis :



BAGIAN DELAPAN

Hilangnya pak Rahmat secara di luar nalar membuat saya penasaran. Beberapa hari kemudian saya sengaja mendatangi lagi, mengurutkan dari awal sejak perjalanan dari rumah kami ke tempat pak Rahmat. Rumah pak Rahmat tetap tidak dapat saya temukan. Tidak puas dengan pencarian di rute yang sudah ada, Saya menyusuri lagi jalanan di depan mata, tapi tetap nihil. Kemudian pencarian fakta ini Saya lanjutkan dengan mendatangi rumah sakit tempat dulu pertama kali kami berkonsultasi dengan pak Rahmat.

“Alamatnya, ya kami tidak menyimpannya selain alamat itu Pak.” kata Dokter Heny menjelaskan pada saya.

“Yang kami datangi itu tidak ada rumah lain selain rumah tua itu Bu.” kata saya sedikit menekan suara untuk memberi efek penting pada kalimat yang saya sampaikan.
“Menurut saya juga tidak jelas itu pak Rahmat…” kembali Dokter Heny.
“Maksudnya bagaimana Bu?” tanya saya.

“Pak Rahmat datang sendiri ke sini, melamar sendiri untuk bekerja di Rumahsakit ini” menjelaskan, Dokter Heny.

“O…” saya membentuk bulatan di mulut.

“Pak Rahmat juga berhenti dari rumah sakit ini dengan tanpa penjelasan apa-apa.” Saya terdiam, tak mampu mencerna lebih dalam tentang apa yang sedang kami bicarakan.
Saya pulang beberapa waktu kemudian. Penjelasan dari Dokter Heny cukup membuat saya merasa tidak perlu mencari dan melacak pak Rahmat lagi.

Pak Rahmat berhenti dengan tanpa mengajukan berhenti, tapi menghilang begitu saja Pak, tanpa pamitan.

Sepanjang perjalanan pulang, terngiang terus kata-kata Dokter Heny.
Sebuah tanya yang masih belum ada penjelasan sampai sekarang. Tapi dua kemungkinan yang bisa saya simpulkan dari kejadian itu mengenai pak Rahmat. Pak Rahmat itu sebenarnya bukan manusia, tapi makhluk gaib yang mungkin saja tingkatannya di dunia pergaiban sudah tinggi, atau mungkin pak Rahmat adalah makhluk gaib yang memiliki derajat tinggi sehingga bisa menjelma dan memanifestasikan diri secara langsung, menampakkan dirinya di dunia nyata. Kemungkinan yang kedua, pak Rahmat itu memang benar-benar ada dan beliau adalah manusia biasa, tapi orangnya mungkin sembrono dengan pergi begitu saja saat bosan dengan pekerjaan, sedangkan yang kami temui di malam itu bukan Pak Rahmat yang sebenarnya.

Lalu siapakah yang kami temuai pada malam itu? Mungkin saja itu adalah jin yang memiliki misi tersendiri sehingga merasa berkepentingan dengan menampakkan dirinya kepada kami.

Sudahlah, saya sudah suntuk dengan rutinitas kerja yang sudah memakan separuh waktu saya setiap harinya, ditambah dengan berbagai intrik. Saya tak mau lagi semakin memberati beban otak saya. Yang penting, saya selamat, anak istri juga selamat.
Anak kami sudah semakin bisa dikendalikan emosinya. Jika selama ini dia lebih sering mengusili teman-temannya, Pijar yang sekarang sudah mudah untuk dikendalikan dan mau mengerti keinginan dari orang-orang yang menyayanginya.
Bulan berganti, tahun pun ikut berganti. Selamat pagi alam, selamat pagi kehidupan. Pagi yang jernih, Pagi yang suci. Matahari bersinar menyapu wajah sebuah kampung, Kampung Sindangkarsa. Udara segar yang dibawa angin padang Golf Emeralda membuat ketegangan sSaya sedikit mengendur.

Di sebuah pondokan beratap asbes sederhana, duduk empat orang dengan pakaian seadanya. Salah satu diantara mereka mengenakan sarung, sambil terus menghisap rokok kretek di tangannya. Hari ini hari libur, saya bisa bebaskan sedikit beban dari rutinitas kerja. Setelah sekian lamanya waktu saya banyak tersita oleh kekalutan dengan menurunnya penghasilan, semakin lama semakin drastis. Pak Narto memberitahu saya, Pak Gimar sedang di pondokan. Pondokan Pemancingan Rohiman. Itulah yang menyeret langkah Saya ke pondokan sepagi ini. Laki-laki berkain sarung itu, namanya Gimar. Saya lebih sering memanggilnya dengan panggilan mBah Gimar. Bukan karena usianya yang sudah tua, tapi karena dia memiliki kelebihan yang jarang dimiliki orang lain. Melihatnya kehadirannya ini, Saya jadi teringat betapa dulu Pak Gimar cukup tangkas dalam “mengobati” Ratih, bekas pembantu saya yang saat itu kesurupan. Kata Pak Narto, mBah Gimar baru beberapa hari ini kembali ke Cimanggis, setelah lama dia pulang ke Sumatera.

“Bagaimana kondisi rumah Bapak sekarang?” Tanya pak Gimar, sambil matanya menatap saya. Yang lain terdiam, asyik menikmati hidangan singkong goreng dari pak Narto. Saya tidak langsung menjawab. Saya tergoda untuk menjajal sejauh mana Pak Gimar menebak suatu keadaan.

“Kelihatannya bagaimana Pak?” tanya Saya kemudian.

“Banyak lagi sekarang penghuninya ya?” kata Pak Gimar, balik bertanya.
Akhirnya Saya ceritakan kejadian-kejadian penting setelah kepergian Pak Gimar.
Pak Gimar antusias mendengarkan setiap kata demi kata yang Saya ucapkan. Kadang kepalanya mengge
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 1
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 2
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 3
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 4
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 5
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 6
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 7
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 8
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 9

Rating : ★★★★★★  (vote)
Add to Bookmark
View : 15098 kali
Cerita Terkait :