Book Vherolly
Berbagi cerita mu disini gratis
Cerita Pilihan :
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 6-9 End | Book Nurmelly
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 6-9 End
Rating : ★★★★★★  (vote)
Category : Cerita Horor | 10/01/2013
Penulis :


BAGIAN ENAM

Saya tidak mengerti dengan semua yang saya alami ini. Apa kesalahan saya dan keluarga saya sampai-sampai harus terjebak dalam kemelut yang tak ada ujung dan pangkalnya, terjebak di rumah hantu. Kata-kata dari pak Ustad beberapa waktu yang lalu membuat saya bergidik. Sebegitu parahkah rumah ini, sampai-sampai penghuni gaibnya ikut campur dalam urusan saya di luar rumah. Pantas saja orang-orang sebelum saya tidak bertahan lama tinggal di sini, paling lama dari mereka hanya satu setengah tahun. Saya harus menyalahkan siapa? Penjual rumah yang telah saya beli? Menurut saya dia tidak bersalah karena dia juga merupakan korban dari ketidaktahuan. Kondisinya ketika meninggalkan rumah ini juga sudah cukup menggambarkan betapa menderitanya selama hidup dan tinggal di rumah ini, meski ditutup-tutupi. Dan saya memang minat dengan rumah ini. Jujur saja, saya sangat suka dengan model rumah ini. Suka dengan bentuknya, suka dengan keasrian dan lingkungan pemandangan alamnya.

Memang pertama kali saya datang bersama perantara yang menawarkan rumah ini, saat melihat keadaan rumah waktu itu ketika malam, saya sempat merinding, entah oleh sebab apa. Tapi saya buang jauh-jauh perasaan itu.

Akhirnya rumah ini saya beli dengan harga yang sangat murah bila dibanding dengan apa yang saya dapatkan. Harusnya ini jadi lampu merah atau tanda tanya buat saya untuk tidak melanjutkan pembelian, setidaknya curiga. Karena rasanya tidak wajar. Selain mendapatkan rumah ini, saya juga mendapatkan seluruh isinya. Si pemilik pergi hanya dengan membawa pakaiannya saja. Seandainya saya tidak membawa barang apapun dari tempat tinggal saya yang lama, peninggalan dari si penjual rumah ini saja sudah sangat cukup untuk memenuhi sekedar keperluan rumah tangga kecil. Televisi, Kulkas, 3 set tempat tidur lengkap dengan bantal-bantalnya, 2 Lemari, 3 set meja kayu jati antik, dan lain-lain. Saya tidak sempat berfikir bahwa barang-barang ini juga telah menjadi media bagi para setan dalam melaksanakan pestanya di kegelapan sepanjang malam, di kelak kemudian hari.

Ada yang saya suka dari barang-barang itu, terutama satu set meja di ruang tamu. Memiliki bentuk yang dapat menarik orang yang melihatnya. Dia seakan mengandung magnet magnet untuk seseorang memilikinya. Bentuknya antik, mirip dengan kursi-kursi tua pada bangsawan-bangsawan kuno, dengan ornamen ukiran pada lengan dan badan kursi itu. Di kursi inilah kemudian sering terlihat seorang nenek kebaya merah dan sanggul besar di kepalanya, sedang duduk termangu seolah ada seseorang yang ia tunggu.

Semilir angin dari arah lapangan Golf Emeralda menyejukkan membawa nyanyian alam. Derunya terasa dingin lembab menyentuh kulit tubuh saya. Sangat melenakan, membuat lamunan terasa nikmat di siang itu. Fragmen-fragmen dari perjalanan saya ke sini, silih berganti berebut tempat di kepala saya, membuat sulit untuk saya pejamkan mata dan tertidur biarpun hanya sekejap. Galau saya semakin bertumpuk dengan bertubinya masalah demi masalah yang saya hadapi. Entah ada hubungannya dengan rumah ini atau hanya kebetulan saja, yang jelas saya merasakan kemunduran semenjak saya tinggal di rumah ini. Saya tidak bisa menyalahkan orang yang menjual rumah pada saya, karena dia memang bertindak demi keselamatannya sendiri, dan tentunya wajar bila dia menutupi semuanya. Kembali fikiran saya melayang ke mana-mana, sebelum akhirnya saya mencium bau wangi yang menyergap kesadaran saya. Rasa kantuk yang muncul secara tiba-tiba, telah membuat lunglai persendian saya.

Saya paksakan menuju kamar, lalu saya baringkan tubuh di kasur, istirahat. Seketika kelambu tempat tidur saya berubah menjadi putih dan bergerak-gerak lalu menutup dengan sendirinya. Nampak sebuah wajah cantik putih dengan rambut panjang putih berkilauan. Lengannya terbuka di antara kain berwarna perak ditubuhnya. Dia mendekatkan telapak tangannya dan meraih bahu saya. Terlihat ikat kepala di atas keningnya, lebih mirip mahkota berwarna perak. kuku-kukunya panjang dan juga berwarna putih perak menyentuh kulit saya. Saya seakan terlena dan terbuai, atau memang saya sudah dalam pengaruh rasa kantuk yang berlebihan. Perempuan di depan saya mendekap lalu menindih tubuh saya, tapi kemudian kesadaran saya kembali pulih. Entah dari mana tiba-tiba muncul kekuatan yang mengarahkan saya untuk mendorong tubuh perempuan itu menjauh dari saya, wajah perempuan itu berubah marah dan lalu seolah wajah itu tersayat dari dalam dagingnya dan nampak kulit wajahnya retak-retak oleh semacam luka. Dari luka-lukanya mengeluarkan darah yang membasahi hampir seluruh wajahnya. Saya pejamkan mata dan berharap untuk segera sadar bila ini hanya mimpi. Tapi tetap tidak bisa, pemandangan itu tetap terpampang di depan Saya, bahkan leher ini seperti kaku tidak bisa bergerak. Saya teriak-teriak dengan melafalkan ayat-ayat suci yang biasa saya bacakan ketika saya
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 1
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 2
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 3
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 4
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 5
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 6
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 7
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 8
Empat Tahun Tinggal di Rumah Hantu Bagian 9

Rating : ★★★★★★  (vote)
Add to Bookmark
View : 13807 kali
Cerita Terkait :