Book Vherolly
Berbagi cerita mu disini gratis
Cerita Pilihan :
Seram Nge-Band di Kampung Siluman Setan di Daerah KRUI (Kisah Nyata) | Book Nurmelly
Seram Nge-Band di Kampung Siluman Setan di Daerah KRUI (Kisah Nyata)
Rating : ★★★★★★  (vote)
Category : Cerita Horor | 14/12/2013
Penulis : admin

Ilustrasi Gambar

Nge-Band di Kampung Siluman Setan di daerah KRUI - LAMPUNG BARAT

Kisah ini terjadi sama band bokap saya, tepatnya tahun 1978 sekitar 35 Tahun yang lalu, tanggal dan hari bokap sudah lupa. Awalnya band bokap adalah band yang terkenal di daerah kota lampung, nama band nya “TransLam”, mereka memilih nama tersebut karna dibawah asuhan Departemen Transmigrasi. Setiap ada acara wedding atau acara2 lain biasanya warga kota Bandar Lampung sering menggunakan jasa band bokap. Lagu yang disuguhkan biasanya pop, keroncong dan dangdut yang sangat tenar dijaman itu.

Suatu hari band bokap ditawari oleh seorang bernama pak budi (nama samaran) untuk tampil diacara perkimpoian di daerah krui, lampung barat. Tempat yang jauh dari kota Bandar lampung, saat jaman itu perjalanan bisa ditempuh secepat2nya 12 jam. Namun saat itu pak budi menawarkan angka yang fantastis yaitu 400.000/band. Angka yang sangat besar pada saat itu, secara bokap kalau beli Radio Tape yang terbagus barunya masih harga 15.000. Tanpa pikir panjang mereka pun menerima tawaran tersebut dengan senyuman yang lebar hehehe.

Singkat cerita berangkatlah mereka sekitar 12 orang tepat siang hari dengan rombongan 1 bis dan 1 truk untuk alat2 musik dan genset yang kala itu besar2 nya ga karuan, bahkan ada ampli yang setinggi pintu hehehe. Perjalanan ini memakan waktu yang lama dan melelahkan karna medan jalan yang sulit, kasar dan sempit, sampai2 tak bisa dilewati dengan dua mobil yang berhadapan, kalau mau lewat harus berhenti dipersimpangan atau lahan yang sedikit lebar. Belum lagi ditambah samping kiri kanan jurang, hutan dan gunung.
Perjalanan ke Krui pasti melewati liwa, nah ada satu daerah liwa itu bisa dibilang mirip2 puncak, namun jauh lebih dingin lagi. Saat mereka sampai di puncak pas mereka ga sia2 kan moment tersebut, band berhenti sejenak dan menseruput kopi sambil menikmati pemandangan malam yg gelap gulita ahaha, yang kira2 saat itu waktu menjelang pukul 10 malam. Kelar dari berhenti sejenak merekapun melanjutkan perjalanan yang selanjutnya adalah menuruni puncak dan mengarah ke pantai krui. Sekitar jam 12an malam akhirnya mereka tiba di sebuah rumah besar yang tidak jauh dari pantai, ditempat itulah akhir dari perjalanan hari itu. Setelah semua tim band turun dari kendaraan Pak Budi langsung briefing, meminta agar band beristirahat di rumah tersebut supaya besok pagi bisa fit dan berangkat ke tempat acara.


Keesokan harinya bokap dan teman - teman dikagetkan teriakan satu orang dari arah toilet, dia kaget karna dia sudah berpindah tidur tanpa disadari yaitu tepat di depan pintu toilet. Kata ortu, memang teman ortu yang satu ini tadi malam sebelum tidur sering bercanda dan juga berkata - kata yang 'kotor'. Saat itu semua band bingung mau ngomong apa heheh, karna mereka juga belum pernah melihat misteri seperti itu dan hal tersebut adalah satu hal yang menggelikan juga bagi mereka hehe (Kejanggalan Dimulai).
Singkat cerita mereka bersiap dan bergegas untuk berangkat ke tempat acara, namun mereka dibuat terkaget lagi karna muatan alat musik dan genset sudah tidak ada, band bertanya kepada pak budi, dan pak budi menjawab santai “iya alat2 musik semua sudah dipindahkan ke tempat acara malam itu saat anda2 tidur”. Tanpa menaruh curiga mereka pun mengiyakan saja.

Lalu pak budi berkata sama tim band agar mereka menggunakan cincin yang telah disediakan pak budi, masing2 satu, cincin tersebut terbuat dari ijuk (itu loh yang buat nyapu). Mulai dari situ kecurigaan ortu dan teman2 bertambah. Mereka bertanya kenapa pak harus pake cincin ini? Pak budi menjawab "ini hanya buat jaga2 aja". Walau sedikit bingung dan bertanya2 band tetep make juga, maklum dengan kejadian sebelumnya mungkin hehehe.

Setelah semua siap mereka pun berangkat menggunakan bus ke TKP siang hari itu, pak budi sebagai guide membawa mereka ke sebuah sungai yang lumayan besar yang tentunya tak bisa dilewati oleh bis, hanya rakit sederhana yang tersedia yang hanya bisa dinaiki 5-6orang.
Pak budi langsung berbicara “acaranya ada di sebarang sana kita harus lewati sungai tersebut dengan rakit ini, nanti disana sudah ada yang menunggu dengan sepeda motor untuk antar band semua ke tempat acara”.
Kebetulan ortu ane yang duluan, penyebrangan pertama mereka 4 orang. Sesampai di sebrang ada 2 motor sudah siap menunggu, dan berangkat lah mereka dengan 1 motor 3 orang. Selama di perjalanan ortu saya bingung kok ini jalan cuman setapak dan alang2 nya tinggi sekali, sampai mata tidak bisa melihat jauh. Ortu tanya sama pengendara motor, pak ini kita mau kemana kok lewat2 begini? dia menjawab santai "udah tenang aja pak acara nya ada didepan situ". Ada sekitar setengah jam mereka sudah sampai di tempat kejadian perkara hehe, ortu ngelihat ada tanah yang luas namun hanya ada satu rumah panggung yang besar. Dan dia bertanya kembali, pak acaranya dimana kok sepi gini sih? si pengendara bilang "bapak tunggu sini dulu ya, saya mau jemput yang lainya".

Singkat cerita terkumpul lah semua band di tanah tersebut, setelah di desak dengan pertanyaan2 dr band disitulah akhirnya kejujuran dari si pak budi dipertanyakan. Pak budi berkata “ini lah tempat acara tersebut, ini Kampung Siluman/Setan, anda2 sekalian malam ini akan menghibur anak raja (pangeran) dari raja penguasa laut ini, merujuk pada laut krui yang menghadap ke samudra hindia, pangeran tersebut mengadakan pesta besar2an atas pernikahannya, malam ini akan banyak sekali undangan yang datang termasuk nyi roro kidul”. “Kalau kalian copot cincin ijuk tersebut kalian bisa liat didalam rumah tersebut sedang dipersiapkan segala menu masakan dan keperluan lainnya”. Namun pak budi melanjutkan “tapi jangan sekali2 dibuka, kalau kalian gak pake cincin tersebut saya jamin kalian tidak akan bisa pulang”. Disitu terhentak lah band, kaget, takut, pokoknya campur aduk lah rasanya, yang tentunya dibalut dengan rasa penasaran apakah ini benar2 terjadi. Sambil mereka terdiam sejenak pak budi berkata “haduh banyak debu”, gak lama dia berkata2 tersebut turun lah hujan, namun lucunya hanya di area tanah tersebut, tambah lagi lah penasaran anak2 band hehehe (saya merasa tuh pak budi merangkap pawang hujan hehehe). Akhirnya band berkeputusan untuk tetap melanjutkan, mau gimana lagi mereka sudah ada disitu, tanggung sekalian lah, lagi pula kesempatan begini ga dateng sembarangan.
Pak budi berkata “sambil nunggu persiapan coba kalian sana jalan2 sore ke tepi laut sambil lihat2 sarang burung walet, tapi jangan terlalu jauh ya”. Dalam perjalanan ke pantai yang sekitar 500meter dari TKP band melihat goa sarang burung walet yang lumayan besar.
Sesampainya mereka di pantai baru saja kaki menyentuh air yang hanya sedalam mata kaki tiba2 ombak datang setinggi leher entah datang dari mana. Karena itu band berbalik badan dan berhamburan kembali ke TKP hehe.

Sesampai di TKP band dibuat kaget kembali, kenapa? karna lahan yang tadinya kosong sekarang sudah ada set panggung lengkap dengan alat musik dan tenda sepanjang 500meter (1/2 KM) diisi dengan kursi2 kayu dan sofa hijau panjang pada bagian paling depan. Melongo dan takjub gak karuan band berkata dari mana ini bawanya sedangkan orang aja harus naik rakit dan naik motor di jalan setapak dengan ilalang setinggi orang dewasa. Dan bagimana bisa secepat ini nge-set nya, padahal kami ke tepi pantai gak lama kok. Ada yang sempet bertanya, bagaimana cara bawa alat2nya pak? pak budi bilang "ya digotong". Band semakin dalam dibawa ke alam yang ga rasional, namun tetap berpikir rasional dengan cara tidak membuka cincin tersebut hehehe..

Menjelang maghrib pak budi berkata ke band, "kalau kalian mau jalan2 silakan karna saat matahari terbenam kalian bisa liat rumah2 kecil yang tadinya ga kelihatan bisa jadi "kelihatan" disekitar sini. Benar saja seakan seperti acara sulap, setelah matahari terbenam nongol lah rumah panggung yang kecil2 tersebut yang kesemuanya hanya diterangi dengan lampu semprong. Karna penasaran, band memberanikan diri berjalan2 dan melihat2, belom jauh dari tkp band melihat ke sebuah rumah yang pintunya terbuka sendiri, seakan mempersilakan mereka masuk dan bertamu, spontan semua mengurungkan niat berjalan2, band berhamburan dan bertabarakan hahahahhaa, cari aman band pun balik ke TKP.

Singkatnya mereka pun dipersilakan manggung, acara dimulai sekita pukul 8 sampai pukul 12an, sedikit canggung karna mereka manggung di depan kursi2 dan sofa yang tak ada penghuninya, layaknya check sound hahaha. Mereka tidak melihat satupun wujud yang menonton, semua kosong, kecuali mereka sedikit ceroboh melepas cincin nya hehehe.

Setelah acara band bertanya pada pak budi, bagaimana tadi pak? “waduh bagus sekali kalian, penuh sekali acaranya banyak yang joget2 juga di depan, dari mana2 pada datang, td juga sempet datang nyi roro kidul duduk di sofa hijau depan walaupun tidak begitu lama”. “Kalau kalian lepas cincin itu kalian pasti bisa lihat”. Pak budi kasih penjelasan tambahan “Kenapa kalian tidak saya perkenankan buka cincin disamping kalian tidak akan tau jalan pulang, kalian juga akan kesirep atau kecantol dengan wanita2 yang ada disini, semuanya cantik2 banget. Kata pak budi, yang membedakan mereka dengan manusia adalah philtrum (diatas mulut, dibawah hidung), kalau bangsa siluman ga punya lekukan tersebut.

Akhirnya acara mereka hari itu pun selesai. Sayangnya ortu ga bisa mengingat bagaimana cara mereka bisa pulang, seinget ortu dia hanya inget saat mereka sudah di bis saat perjalanan balik.

Singkat cerita 2-3bulan setelah mereka kembali dari krui, pak budi datang kembali dengan tawaran yang menggiurkan, bayaran 2 kali lipat dari kemarin tapi tampil di Pulau Pisang, kata pak budi hanya beberapa jam pake kapal motor dari tepi laut kampung yang sebelumnya. Walaupun pak budi bilang dijamin aman , cuman band tetap menolak dan tidak mau mengambil resiko untuk tawaran tersebut.

Saya mencoba untuk mencari tahu apakah setiap kisah yang diceritakan bisa saya temukan keakuratannya di zaman sekarang ini. Dan saya juga penasaran tuh tempat dimana sebenarnya, karna bokap juga ditanya gak tau dimana, saya maklumin lah karna “medan perang “ yang sudah dilewati layaknya hutan dan pesisir yang belom terjamah.

Yuk kita belah hehehe;

Pertama2 apakah benar jalan saat itu sempit dan banyak melewati jalan yang sulit?
Saya coba cari di om google apakah data mengenai jalan di krui tempo dulu, akhirnya saya mendapatkannya, ya walaupun cuman satu hehe.. dr situ kita tahu jalanan disana emang sempit. Malah saya sempet baca jaman sekarang jalanananya juga sering longsor dan berbahaya.


Bokap bilang di melewati sungai untuk bisa nyebrang ke kampung tersebut. Saya coba hunting ternyata emang banyak sungai di lampung barat yang mirip dengan cerita.


Setelah mereka nyebrang sungai katanya ada alang2 yang tinggi2, apa bener demikian? Saya anggap itu benar karna jaman sekarang aja lampung barat punya daerah seperti ini.


Katanya ombaknya besar dan berbahaya, apa iya? Ternyata emang benar ombak di krui menjadi salah satu destinasi para surfers dunia. Bahkan bisa sampai 7 meter.


Bokap ditawarin lagi untuk ngeband di kampong siluman lainnya tapi di Pulau Pisang, apa bener itu ada?
Valid, pulau tersebut ada, bahkan saat ini sudah ada investor bule yang buat penginapan disana.


Setelah saya banyak googling saya sedikit mendapat titik dimana tempat tersebut, namun saya pun belum yakin. Tempat tersebut menurut saya lebih mirip dengan daerah sekitar GOA MATU, Deket desa campang krui-lampung barat, yang konon menyimpan cerita-cerita mistis yang banyak.

Dengan adanya sungai pada sekitar daerah tersebut.


Goa yang menghadap ke laut, yang dibilang ada sarang burung wallet, GOA MATU.




“Namun ini hanya perkiraan kasar, saya gak yakin, karna kan sungai banyak disana dan juga sarang burung walet banyak juga. Apalagi laut atau pesisir krui menghampar luas hehehe”.
Yah mungkin aja ada agan2 yang ngalamin hal serupa atau mirip2 bisa kasih titik terang hehe??

Demikianlah kisah nyata ini saya share, ini murni terjadi sama ortu saya. Dibalik ini saya beranggapan bahwa kita manusia tidak hidup sendiri, ada kehidupan yang lain di dunia ini. Namun diatas itu semua tetap TUHAN yang berkuasa, dibawah kolong atau diatas langit ini tidak ada kuasa sebesar Dia. Hanya TUHAN yang layak disembah dan dipuji selamanya.

Tags : kampung berhantu, cerita hantu, kumpulan cerita hantu, kisah nyata, kampung siluman, band berhantu, hantu lampung barat, cerita seram

Rating : ★★★★★★  (vote)
Add to Bookmark
View : 20267 kali
Cerita Terkait :