Book Nurmelly
Berbagi cerita mu disini gratis
Seorang Ibu Setiap Hari Menelpon Putrinya Yang Telah Meninggal

Di Taiwan, ada seorang Ibu yang sudah berumur tujuh puluh tahun yang menunggu telepon putrinya setiap hari. Dia selalu mendengar pesan suara putrinya, "Maaf, aku sibuk sekarang, silakan tinggalkan pesan."Oh...! Itu suara pesan putriku Qingqiao. Hal itu membuat ibunya tidak bisa menahan senyumnya. 

Walaupun mengetahui bahwa putrinya tidak bisa di telepon, tapi
...readmore

 Category: 
 by admin   Post 26/07/2013  
★★★★★★
Gadis Tanpa Lengan Menikah Dengan Anak Deputi Gubernur BI (Kisah Nyata) | Book Nurmelly
Gadis Tanpa Lengan Menikah Dengan Anak Deputi Gubernur BI (Kisah Nyata)
Tambah ke Arsip Bookmark
Rating : ★★★★★★  (vote)
Category : Renungan | 19/10/2013
Penulis : admin

“Sesuatu yang kau anggap baik belum tentu baik di depan Tuhan, juga sesuatu yang kau anggap buruk belum tentu buruk di depan-Nya. Karena Dialah sutradara terhebat sesungguhnya...”

Jogjakarta...

Siang yang panas memeluk daun-daun yang saling bergesek, pohon-pohon rindang di halaman panti asuhan itu saling merangkul, menyebarkan angin semilir dengan suara yang lembut berbisik. Siang yang sunyi, saat sebagian orang-orang bekerja, sebagian lain beristirahat melepas lelahnya.

“Aku pengen pergi dari panti ini mas, sudah 24 tahun aku disini.... ingin rasanya untuk segera bisa mandiri. Aku membayangkan punya suami yang normal, walaupun kondisiku seperti ini, tapi ada gak ya yang bener-bener serius sama aku. Apa aku gak tau diri ya mas kalo ngarepin jodohku lelaki yang sempurna.... apa hidupku sampai tua hanya di panti ini ya mas, sendirian tiap hari di meja ini”

Pandangan Putri Herlina kosong ke depan, aku yang duduk di sampingnya berusaha jadi pendengar yang baik.

“ya banyakin berdoa aja Put, minta sama Allah langsung.... Dia yang punya pabrik jodoh. Dia kan yang bisa merubah segalanya....” jawabku singkat.

Gambar / Foto 1

Hari berlalu.... SMS dari Putri masuk ke Hpku, “Mas, kenal sama orang ini enggak... dia sering ke Panti nyari aku, semalem dia ngajak aku keluar makan, ijin sama ibu panti diijinkan. Kami makan di luar, cuman rasanya ada yang aneh aja...”

“Sik. bentar Put... aku carikan infonya” balasku

Facebook dan Google bekerja sangat cepat di laptopku, berputar-putar dengan rumus algoritma yang rumit, mencari jejak tiap huruf dan kata yang aku ketikkan. Sampai akhirnya aku temukan...

Aku menelepon Putri...
“Ngawuuur to, wong dia itu sudah punya istri, ngapain juga masih ndeketin kamu gitu Put!”

“Hahh!! Ya mana aku tau masss! Orangnya baik gitu!” jawabnya.

“Dah ah, cari yang lain... hehe, jangan mau lagi kalo dia kontak kamu” tegasku.

Bulan berlalu...
Sekali waktu aku datang ke panti itu, aneh ketika kulihat Putri senyam senyum sendiri di depan laptop yang kami beri dulu.

“Dapet cowok kayaknya nih!” tanyaku iseng

“Mau tau aja mas!” jawabnya ketus...

Hehe, begitulah Putri Herlina, emosinya kadang gampang berubah kalo kenyamanannya terganggu. Kuperhatikan eksepresinya di depan laptop, jari-jari kakinya lincah mengetik tombol demi tombol...

Lain hari baru dia bercerita, kusiapkan kupingku untuk menampungnya.
“Dia bule mas, tinggal di Kanada. Kami kenal di facebook, dia serius mas mau ke Indonesia, dia mau nglamar aku... dia sering banget muji-muji aku ‘Putri kamu itu hebat, kamu amazing, aku suka sama kamu’. Mungkin ini jalanku mas untuk bisa pergi dari panti ini, aku benar-benar ingin mandiri, pergi jauh walaupun ke luar negeri...”

Wajahnya lumayan sumringah ketika bercerita ini, seperti ada secercah harapan yang sangat dia tunggu. Aku nanggapinya santai... selow... woless...

“Haiya, kamu nikah sama bule terus tinggal di luar negeri terus gitu, nggayaaa gak mau lagi tinggal di Jogja. Ngartisss kamu Put!”

“Ah mas mbok aku didukung gitu lho! Masak aku dapet cowok gak bener lagi kayak pacarku SMA dulu. Udah manjanya minta ampun, tiap bajunya kotor aja aku yang nyuciin... gak peduli kalo aku gak punya tangan, pakaian kotor malah dikasihin ke aku, minta dicuciin terus!” ucapnya sewot sambil bibirnya monyong-monyong ketika nerocos… hahaha...

“Terus kamu cuciin bajunya?”

“Iya laaah... ku injek-injek pake sabun, kuremet-remet pakai kaki!”

Beberapa penghuni panti asuhan itu berlari-lari di sekitar kami, mereka anak-anak difabel yang dibuang orang tuanya. Sebagian dengan cacat di tubuhnya mereka bisa beraktivitas, sebagian lagi hanya di tempat tidur sepanjang hari, dengan tubuh kaku tidak mampu bergerak. Gerakan bola matanya yang menandakan ada kehidupan di tubuh mereka.

Disanalah Putri menghabiskan waktu bersama adik-adiknya...

-

Putri Herlina… kekurangannya adalah keajaiban Tuhan yang luar biasa, sebuah pesan yang terus aku terjemahkan dan memberi inspirasi pada banyak orang.

Bu Naryo yang merawatnya sejak kecil di panti itu, dengan kasih sayang walaupun bukan anak kandungnya sendiri.

Dia lahir tanpa tangan, ditinggal begitu saja di rumah sakit oleh orang tuanya, mungkin mereka malu dengan kondisinya, tidak pula jelas asal-usul ayahnya.

Tuhan terus mengujinya, seseorang mengambilnya... bukan untuk di rawat, bayi mungil tanpa tangan itu diletakkan di dalam kardus, diletakkan di pinggir jalan untuk mengumpulkan uang belas kasihan...

Tuhan terus menempanya, dalam kondisi ketika masih bayi pun telah memancarkan kelebihan dan menggerakkan hati orang untuk menoleh padanya.

Di jalanan dia pernah tertidur, beralas kardus, berselimut debu dan panas cahaya matahari...

Gambar / Foto 2

Sampai panti asuhan ini menyelamatkannya dari jalanan, dirawat bu Naryo dan pak Naryo selaku pengelola panti tersebut. Dia tumbuh menjadi anak yang tidak berbeda dengan lainnya, lincah dengan kedua kakinya. Menulis, makan, memakai baju, Putri kecil melakukannya sendiri.
Ketika SD sampai SMA, dia tidak mau diperlakukan istimewa, dia tidak mau disiapkan meja khusus, cukup sebuah kursi tambahan disampingnya sebagai alas buku ketika dia mengangkat kakinya, menorehkan tinta dan goresan pensil sebagai bukti perjuangan hidupnya…

Sekali waktu Putri main ke rumahku, ketika sholat berjamaah dengan ibuku dengan lincah kakinya memasang mukena ke seluruh tubuhnya, usai sholat kedua kakinya melipat rapih mukena itu, ditarik kedua ujungnya, menekuk di kedua sisi, melipat bagian tengah tiga kali, dan mukena itu rapi kembali…
Aku dan ibuku bengong melihatnya.
Ketika dia SMP dan SMA, memakai baju hingga jilbab dilakukannya sendiri, Tuhan memberikannya kekuatan dan kelenturan di jarinya.

Pernah aku bertanya padanya,
“Kamu kalo lagi jalan keluar malu gak Put dilihat orang-orang?”
“Kadang risih sih mas dilihatin, tapi gimana lagi emang kondisiku begini. Allah pasti memberikan kelebihan untukku dibalik kekuranganku. Dulu waktu aku masih jaga di Panti 1 di Gejayan, kalo aku mau pulang ke Panti 2 di Kalasan aku naik bis trans Jogja, cuek aja jalan sendiri, pas di bus ngambil ongkos ya aku buka tasku pakai kaki, pada ngeliatin gakpapa, yang penting aku tunjukin kalo aku bisa...”

ketika tulisan di blogku tentang Putri Herlina dibaca banyak orang, beberapa media datang ke panti itu meliput aktivitasnya. Seperti bola salju, Putri Herlina yang dulu tidak dikenal, sekarang muncul di beberapa acara TV. Dia juga mendapat penghargaan salah satu wanita inspiratif dalam sebuah award.

SMSnya pernah masuk kepadaku,
“makasih ya mas, aku dah ngrasain naik pesawat... ini sedang di Jakarta buat shooting acara TV”
aku tersenyum haru, pasti pramugari dengan senang hati membantu memasangkan sabuk pengamannya.

Lama tidak bertemu, aku datang ke panti lagi hari itu. Biasanya Putri sendirian duduk di meja sudut sana, menanti tamu-tamu yang datang berkunjung, ditemani laptop mungilnya. Dia tidak ada...

Panti sedang gaduh, beberapa anak menangis, yang lain berlarian tak beraturan. Berteriak dengan makanan yang belepotan di mulutnya. Mereka memang butuh perhatian ekstra dibanding anak lainnya. Putri yang ditakuti mereka, jika dia sudah ikut berteriak, anak-anak itu akan diam...

“Mbak Putri marah…” bisik mereka

Aku datang disaat tidak tepat, kondisi Putri yang sedang labil tidak mengenakkanku. Obrolan kami hampa, dan dia seperti di puncak kejenuhannya.

Kehadiranku tidak meredakan amarah dan kegalauannya.

Sebelum pulang aku hanya berpesan padanya,

“Jangan tinggalin sholat Put, teruslah berdoa... Allah yang akan mengatur rencana berikutnya untukmu... jangan pernah berhenti berdoa”

Senja menjelang ketika aku pulang, karena kesibukan enam bulan aku tidak datang ke panti asuhan itu. Waktupun terus berlalu, berputar, berjalan setiap hari bersama ketetapan-ketetapan Tuhan...

-

Lebaran baru saja berlalu, makanan masih menumpuk dan tersisa di meja. Suara motor berhenti di depan rumahku sore itu.

Aaah... mbak Sumi pengasuh panti, dengan tersenyum Putri turun dari boncengannya.
“Ibuuuu...” katanya sambil mencium ibuku. Keakraban mereka sudah sejak dulu.

Wajahnya cerah, sudah tidak suntuk seperti beberapa bulan lalu aku melihatnya.

“Tumben Put, sekarang prengas-prenges terus... jadi apa mau ke Kanada? Haaaa” tanyaku

“Ih mas! Gak jadi sama dia! Aku mau nikah mas... namanya Reza, anak Jogja kok. Dia dah punya usaha sendiri, dia juga gitaris band, coba mas lihat videonya di Youtube” jawabnya.

“Woooww! Tumben kamu langsung luluh sama cowok Put, kelihatan nih aura wajahmu bahagia gitu... tajir po anaknya!” godaku

“Dia tuh rutin datang ke panti mas, dia pernah baca tulisan mas Saptu, aku juga gak tau dulu keluarganya seperti apa. Yang jelas dia perhatian banget dan mau menerima kondisiku. Anaknya juga sederhana, pakai mobil tua gitu mas yang gak bisa dibuka kacanya. Kalo ke mall pas ambil tiket parkir dia harus mbuka pintunya... hehe”

Mmmm… sepertinya ini memang Jodoh yang Allah atur untuk Putri, dia bercerita mantap tentang Reza, tanpa keraguan, tanpa kebimbangan… kalo jodoh, orang memang akan bangga bercerita tentang pasangannya, semua kekurangannya adalah keajaiban untuknya.

Lain hari bu Naryo mengabariku, Reza adalah anak dari keluarga terhormat. Putra salah seorang petinggi Bank Indonesia, Deputi Gubernur jabatan terakhirnya. Aku bayangkan, keluarga itu memiliki hati yang luar biasa luasnya dengan menerima Putri Herlina dalam keluarga terhormat mereka.

Bagi Allah, sangat mudah membolak-balikan hati seseorang, melunakkan hati sekeras apapun, jika Allah sudah berkehendak... Kun Fa Yakun begitu mudahnya skenario cantik dan indah terjadi di depan mata.

Apapun kondisinya… Apapun halangannya… Akan sangat mudah bagiNya. Titik!

-

Jogjakarta, 13 Oktober 2013

Aku tercenung di depan pintu masuk gedung, sebuah foto Prewedding itu bercerita penuh makna, kisah panjang anak-anak manusia yang hidup dengan perjuangannya. Pengantin lelaki tegap disamping, memegang “tangan” pengantin wanita yang hanya tampak dalam pandangan mata hatinya.

Foto / Gambar 3 Putri Herlina Prewedding

Ruangan di Balai Sinta itu penuh haru, ketika Reza Somantri dengan tegas mengucapkan ikrarnya, menerima Putri Herlina secara sah menjadi istrinya.

Banjir airmata dari para tamu yang hadir, ibunda Reza tak henti-henti mengusap matanya, tamu yang hadir, seorang bapak di sudut dengan sapu tangan di wajahnya. Tak terkecuali kameramen dan fotografer dengan mata berkaca-kaca yang mengabadikan moment itu dengan penuh takjub tak berkesudahan.

Hari ini Allah membuktikan janjinya, derajat seseorang yang lahir di dunia dengan segala keterbatasan dan kekurangan diangkat tinggi di depan manusia lainnya. Kisahnya menginspirasi banyak orang yang lahir dengan sempurna, dengan limpahan harta dan kasih sayang orang tuanya.

Ketika prosesi sungkeman, ibunda Reza memeluk anaknya begitu lama, dengan terbata-bata seperti tak berkesudahan, menjadi pemandangan yang sangat mengharukan, seperti berkata, “Wahai anakku, engkaulah lelaki itu... engkaulah yang dipilih Allah untuk menemani wanita luar biasa ini. Engkaulah yang Allah percaya duduk, berdiri, berjalan disampingnya selamanya. Jadikan ini sebagai ibadahmu, pahala tak berkesudahan hingga akhir hayatmu...”

ketika aku memotret ini, suara isak tangis ibu-ibu disamping kanan kiriku tak terhenti.

Foto / Gambar Pernikahan

Putri tertunduk haru di sampingnya, dan aku tau bagaimana perasaannya... dia telah terlatih sejak kecil menghadapinya.

Foto / Gambar Pernikahan

Usai sungkeman, adik-adik panti diundang semua di depan, berjejer menghadap ke pelaminan. Keluarga Reza memberikan tas penuh alat sekolah untuk mereka satu-satu. Putri dan Reza berjalan mendekati mereka, satu-satu mereka menyalami Putri, memegang tangan mungil yang ada di pundak Putri. Mereka melepas kakak yang selama ini menemani mereka, kakak yang hidup bersama mereka belasan tahun, menghadapi bersama-sama takdir mereka, lahir dengan hidup terbuang tanpa keluarga dan orang tua.

Foto / Gambar 4

Foto / Gambar 5

Usai acara itu, Reza menuntun istrinya kembali ke pelaminan. Dengan tegar mereka melangkah berdua, siap bersama menghadapi dunia. Satu persatu tamu memberikan selamat, beberapa orang menepuk pundak Reza, dan menyatukan tangannya di dada ketika di depan Putri Herlina, seolah memberikan penghormatan yang tinggi pada kisah mereka.

Foto / Gambar 6

Saatku memberikan ucapan selamat, kubisikkan di telinga bu Naryo yang ada disamping kiri pelaminan, “Surga kagem panjenengan bu, tugas ibu merawatnya sejak kecil hingga menikahkannya usai sudah... pahala luar biasa untuk ibu”

Tanganku digenggam erat bu Naryo, matanya berkaca-kaca... sungguh keikhlasan seorang wanita yang mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak titipan Allah yang terbuang dan terlupakan.

Malam ini berakhir cemerlang, bintang-bintang di langit Jogja bertebaran. Para tamu pulang dengan ribuan kesan di hatinya. Mereka tidak bisa menyalami mempelai wanita, tapi Putri Herlina menyentuh lembut hati mereka semua.

-

Kumpulan Foto Perjalanan Putri Herlina, semoga menginspirasimu untuk pantang menyerah :

Gambar / Foto Putri Herlina pada masa kecil

Putri kecil, membantu menyapu halaman

Putri belajar menulis pakai kaki

Putri menyikat gigi sendiri

Sejak SMP sudah mandiri

Bu Naryo yang sejak kecil merawat Putri

sehari-hari di Panri Asuhan di bagian administrasi

Putri herlina tampak tersenyum bersama adik-adiknya

Disini dia dibesarkan dan mengabdikan diri untuk adik-adiknya

Happy ending sebuah perjalanan Putri Herlina

Mereka tinggal di Panti Asuhan Sayap Ibu di Jogja, jika kalian mau membantu mereka bisa langsung ke sana, Panti 1 di Jl. Rajawali 3 Pringwulung Condongcatur Depok Sleman (selatan selokan mataram Gejayan)
atau
Panti 2 di Kadirojo III no. 153 RT07/02 Purwomartani, utara kampus Ukrim Kalasan Jogja. telpon di 0274-514068.

Tags : kejaiban Allah, keajaiban tuhan, tidak ada yang mustahil, kehidupan seorang wanita, kisah nyata, kisah mengharukan, pernikahan yang baik, deputi bank indonesia

Link terkait :

Putri Herlina, Kisah Semangat Hidup, Kemandirian dan Keajaiban Cinta (Kisah Nyata)

Gadis Tanpa Lengan Menikah Dengan Anak Deputi Gubernur BI (Kisah Nyata)

Download Cerita Hantu Nyata Android Apps Gratis
Download Cerita Curhat Cinta Android Apps Gratis

Baca cerita Gadis Tanpa Lengan Menikah Dengan Anak Deputi Gubernur BI (Kisah Nyata) and free download
Rating : ★★★★★★  (vote)
Cerita Terkait :
Komentar :
Masukkan bilangan captcha berikut : 392